Bersamaan dengan pelbagai masalah yang melanda bangsa Indonesia, diakhir tahun lalu, masyarakat dikejutkan lagi dengan berita terbaru, yaitu meninggalnya mantan presiden KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada tanggal 30 Desember lalu. Di ranah media, mantan orang nomor satu itu pun kembali menjadi primadona pemberitaan. Tentu bukan saja karena popularitasnya sebagai penguasa negeri ini. Pluralisme, Kontroversialnya, dan Guyonan singkatnya menjadikan Gus Dur memiliki sejumlah nilai berita yang sangat layak untuk direpresentasikan. Begitu beragamnya, sehingga pada minggu-minggu terakhir hidupnya sejumlah media menampilkan apapun yang bersangkut paut dengan Gus Dur. Ada berita-berita tentang pernak-pernik sejumlah pengagum Gus Dur, mulai dari pelukis wajah Gus Dur dari kalangan anak-anak, puisi-puisinya, pengkoleksi buku-buku tentang Gus Dur dan sebagainya.
Para pembaca maupun penonton media yang jeli akan segera menemukan bahwa berita-berita utama seputar Gus Dur pada saat itu mengalami pergeseran luar biasa dibandingkan beberapa waktu sebelumnya. Terdapat kontradiksi yang jelas. Dahulu wacana pemberitaan Gus Dur umumnya berisi tentang aneka ragam kontroversi yang dialamatkan kepadanya. Sekarang wacana itu tengah berubah. Kontroversi “ringannya” jarang menempati berita-berita utama media kita. Bahkan, salah satu televisi terkemuka tidak pernah menyebut secara langsung nama Gus Dur dalam pemberitaannya dan menggantikannya dengan sebutan Bapak Pluralisme; sama statusnya dengan penyebutan Sang Proklamator untuk almarhum presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
Gus Dur dan (Re) Media
Bahasa menempati posisi paling penting dalam proses produksi dan distribusi sebuah informasi. Isi media merupakan sekumpulan bahasa yang terangkai menjadi satuan-satuan struktural yang dapat dimaknai dan dipertautkan dengan realitas yang ada. Kendati demikian, bahasa sendiri pada dasarnya merupakan realitas tersendiri. Bahasa bukan saja mampu mengaburkan realitas sedemikian rupa sehingga tidak selalu sama persis dengan realitas yang sesungguhnya, melainkan juga mampu menciptakan dan mendaur ulang citra yang berlebihan terhadap realitas yang sesungguhnya. Bahasa mampu me-rethinking dan me-renewal realitas, demikian ungkapan yang layak digunakan untuk memperlihatkan bekerjanya bahasa di dalam mereproduksi realitas yang disampaikan pada khalayak melalui media. dalam ungkapan singkat, bahasa memproduksi wacana, yakni ketika suatu informasi direproduksi melalui praktik berbahasa tertentu untuk menghubungkan antara realitas yang diinformasikan dengan khalayak media.
Tanpa hendak mengesampingkan secuil berita negatif tentang Gus Dur, kesimpulan pertama yang terlihat dari dominannya berita Gus Dur di media minggu-minggu terakhir menjelang akhir hayatnya menyajikan gelagat menarik: “Rethinking dan Renewal Gus Dur”. Gus Dur kembali dihadirkan ke ruang publik sebagai sosok humoris yang tak kontroversial lagi. Sejumlah ajakan untuk menjadikan beliau sebagai pahlawan nasional menyiratkan satu pengakuan bahwa tak layak lagi memperlakukannya sebagai orang yang berstatus kontroversial di mata media. Citra ini yang nampaknya lebih mencuat ke media. Di tengah berbagai gejolak bangsa yang melanda negeri ini, penghormatan terhadap mantan presiden tercepat masa kepemimpinannya di Indonesia itu masih begitu besar. Sebagian orang mengatakan bahwa Gus Dur tergolong tokoh besar dunia, bahkan merupakan pejuang demokrasi terbesar abad ini. Buloggate yang sempat menyeret nama almarhum diyakini juga tidak akan menjadi kendala dalam penganugerahan gelar pahlawan nasional yang sekarang jadi pembahasan kental dalam media. Dukungannya terhadap pemberian penghargaan gelar pahlawan nasional pun terus bertambah. Selain itu, mereka juga memberikan usulan agar tanggal meninggalnya Gus Dur diperingati sebagai hari pluralisme Indonesia.
Di ranah media –khususnya televisi– sosok Gus Dur kembali hadir ketika kita mempertimbangkan wacana-wacana yang cenderung memposisikannya sebagai individu yang menuai kontroversi dan banyak canda itu. Mengingat kembali liputan media televisi kita sepanjang pekan-pekan terakhir sakitnya Gus Dur memperlihatkan kesigapan dan kepedulian yang luar biasa terhadap Gus Dur, mungkin melebihi liputan apapun. Maka menjadi jelas bahwa tanda-tanda verbal dan visual tentang representasi Gus Dur menciptakan konotasi baru bahwa Gus Dur, meski ia dituduh terseret dalam kasus Buloggate oleh sebagian orang, tetap merupakan seorang pahlawan. Media memproduksi mitos baru atas Gus Dur sebagai seorang pemimpin besar yang miskin kesalahan.
Penggiringan Kesadaran Publik oleh Media
Bagaimanapun renewal tentang Gus Dur dalam media mempunyai dimensi tambahan yang disebut naturalisasi sehingga sistem makna yang dipromosikan menjadi masuk akal dan diterima apa adanya. Dalam konteks ini, rethinking Gus Dur sebagai pemimpin pluralis yang membawa suskses Indonesia pasca reformasi dinaturalisasikan dengan representasi kalangan masyarakat yang menilai bahwa Orde Reformasi terbukti lebih baik dari sekarang. Alasan-alasan logis semacam rendahnya tingkat korupsi serta gejolak ekonomi yang tidak fluktuatif seperti sekarang, harga-harga yang cenderung stabil dan sebagainya menjadi semacam pembenar bahwa kepemimpinan Gus Dur masih lebih baik dari sekarang. Representasi semacam itu menyajikan konotasi “ketidaksadaran yang begitu mendalam” bahwa krisis yang terjadi sekarang ini mula-mula diakibatkan oleh kebijakan Gus Dur di masa lalu.
Jika hal demikian terjadi, maka secara tidak sadar media sesungguhnya telah menggiring kesadaran publik ke arah pengulangan kembali mitologi lama. Gus Dur sebagai “Bapak Pluralisme” misalnya, merupakan mitologi terdahulu yang pernah mengalami dekonstruksi pasca pengunduran dirinya sebagai presiden. Dekonstruksi tersebut melahirkan demitologisasi Gus Dur, yakni sebentuk renewal yang sama sekali bertolak belakang dengan keadaan lama.
Sering dikatakan bahwa ideologi bersembunyi di balik renewal tersebut. Dalam konteks ini, segera terlihat bahwa apa tidak ada satu pun aktivitas representasi media tentang Gus Dur yang tidak bermakna ideologis. Beroperasinya ideologi representasi media dapat ditengarai melalui asosiasi yang muncul ketika media banyak merepresentasikan berbagai liputan yang bersifat advokatif terhadap Gus Dur. Me-rethinking dan me-renewal kembali Gus Dur sesungguhnya menyajikan serangkaian kepercayaan mendasar yang terpendam dalam ketidaksadaran representator / media. Ketidaksadaran adalah sebentuk kerja ideologis yang memainkan peran Gus Dur. Tanpa sadar, media sebetulnya tengah menjadi agen hegemoni yang justru mempopulerkan Gus Dur bukan sebagai manusia biasa melainkan dengan berbagai pembahasaan yang rupa-rupa.
Sebagaimana halnya renewal, ideologi pun tidak selalu berwajah tunggal. Ada banyak renewal, ada banyak ideologi; kehadirannya tidak selalu kontinyu di dalam representasi media. Nilai ideologis dari renewal muncul ketika renewal tersebut menyajikan nilai-nilai yang dulu dominan di masyarakat. Dahulu masyarakat pernah dijejali dengan renewal Gus Dur sebagai seorang humoris dan penuntun canda cerita. Kemudian muncul lagi renewal tentang Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme. Kedepan, kita tidak akan pernah tahu renewal apa lagi yang akan muncul, apakah Gus Dur akan benar menjadi pahlawan? Media juga yang akan turut menentukan.
Hendro Muhaimin
Staf Peneliti pada Pusat Studi Pancasila UGM
Yogyakarta.