Posted by: kangendru | October 24, 2009

SUKAI WAYANG!!

wayang-kulit1

Wayang dalam pengertian “bayang-bayang” memberikan gambaran bahwa di dalamnya terkandung lukisan tentang berbagai aspek kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain, alam, dan Tuhan; meski dalam pengertian harfiah wayang merupakan bayangan yang dihasilkan oleh “boneka-boneka wayang” dalam seni pertunjukan (Darmoko, 1999:1). Wayang dalam pengertian “hyang”, “dewa”, “roh”, atau “sukma” memberikan gambaran bahwa wayang merupakan perkembangan dari upacara pemujaan roh nenek moyang bangsa Indonesia pada masa lampau (Hazeu, 1979:51). Benang merah dari tradisi ini tampak pada upacara ruwatan[1], yakni wayang sebagai sarana pembebasan malapetaka bagi seseorang/ kelompok orang yang terkena sukerta/ noda gaib.

Di samping itu wayang pun memiliki kekuatan sebagai media pendidikan (Hazim Amir, 1991: 19) dan komunikasi. Nilai-nilai kehidupan manusia dalam berbagai aspek yang terkandung di dalamnya, disampaikan oleh seniman, dalam hal ini sastrawan ataupun dalang kepada masyarakat luas (pembaca atau penonton), melalui penggambaran tokoh beserta peristiwa di dalam karya sastra ataupun pertunjukan. Nilai etika (moral) dan estetika (seni) sangat menonjol di dalam wayang. Aspek etika dan estetika memberikan bingkai terhadap sikap dan perilaku manusia bagaimana seyogyanya “berhubungan” dengan manusia lain, alam, dan Tuhan. Wayang bukan hanya bacaan atau “tontonan[2]”, tetapi juga “tatanan[3]” dan “tuntunan[4]”. Wayang merupakan salah satu hasil budaya manusia, dan manusia itu memanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan mereka. Sehingga wayang dapat bertahan hidup hingga sekarang.


[1] Ruwatan yakni upacara yang diselenggarakan dengan maksud agar seseorang atau kelompok orang yang terkena noda gaib/ sukerta dapat dibebaskan dari mara bahaya/ dimangsa batara Kala. Di dalam upacara tersebut sering    dipergelarkan pertunjukan wayang dengan mengambil lakon tertentu, seperti Murwakala atau Sudamala; lihat Darmoko, Ruwatan Upacara Pembebasan Malapetaka: Tinjauan Sosiokultural Masyarakat Jawa dalam Makara, hal 30-36.

[2] Wayang dipandang sebagai seni pertunjukan yang menarik, memukau, dan menghibur.

[3] Di dalam wayang terkandung konvensi-konvensi yang diakrabi, baik oleh seniman maupun penonton; misalnya bagaimana komunikasi antara raja dengan senapati atau sebaliknya; raja dengan pendeta atau sebaliknya, dan sebagainya. (etika- udanegara); lihat Darmoko, “Seni Gerak dalam Pertunjukan Wayang”, dalam Makara Seri Sosial Humaniora, volume 8 no.2, Agustus 2004, Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.

[4] Di dalam wayang terkandung ajaran-ajaran yang dapat dipergunakan sebagai pedoman hidup bagi masyarakat, misalnya: ajaran kepemimpinan: hendaknya seorang pemimpin meneladani watak matahari, bulan, bintang, angkasa, bumi, air, api, dan angina (asthabrata).

Cerita analogi saya:

“Alap-Alapan Rukmini” merupakan kisah yang menceritakan tentang penculikan Rukmini, anak raja Kumbina, Arya Prabu Rukma, oleh Narayana, anak raja Mandura, prabu Basudewa. Rukmini diperebutkan oleh Narayana dan Durna, pendeta Astina. Duryudana menyadari bahwa jika Durna, yang berpihak kepada Duryudana, dapat mempersunting Rukmini maka Kumbina, raja beserta prajuritnya dapat dipersatukan dengan negara Astina, yang nantinya dapat membantu dan menambah kekuatan dalam menghadapi perang (Bharatayuda). Namun Kresna tidak kalah cerdas/ cerdik, ia kemudian berusaha untuk mengambil terlebih dahulu. Rukmini pun sebenarnya mencintai Narayana dan tidak menyukai Durna. Dalam kisah ini terlihat gambaran tentang peperangan antara keutamaan (Narayana) sebagai penjelmaan dewa Wisnu untuk memenangkan pertarungan melawan kejahatan (Duryudana). Kata alap berarti ambil/ mengambil tanpa sepengetahuan yang memilikinya. Ini berarti bahwa Narayana mengambil Rukmini tanpa diketehui oleh orang tuanya/ raja Arya Prabu Rukma beserta prajurit kerajaan Kumbina.

Kalau gak ngerti, makanya SUKAI WAYANG!!

Pinjam dari:

Darmoko, 1998. Wahyu dalam Lakon Wayang Kulit Purwa. Depok: FSUI.

———–. 1999. Wayang Bentuk Isi dan Nilainya. Depok: FSUI.

———–. 2002. “Ruwatan Upacara Pembebasan Malapetaka: Tinjauan Sosiokultural Masyarakat Jawa” dalam Makara Seri Sosial Humaniora, Vol. 6, No.1, Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.

———–.2004. “Seni Gerak dalam Pertunjukan Wayang” dalam Makara  Seri Sosial Humaniora. Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.

———–. 2006. Kresna dan Bharatayuda pun Terjadi. Depok: Akademia.

Older Posts »

Categories