Pemenang olimpiade sains masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) tanpa tes merupakan babak baru bagi terciptanya pendidikan yang mencerdaskan dan merakyat. Ini juga merupakan satu prestasi kebijakan politik UGM yang patut diacungi jempol oleh banyak kalangan.
Itu menunjukkan bahwa UGM sudah ikut serta membangun bangsa Indonesia dalam dunia pencerdasan. UGM sudah memiliki kepekaan kebangsaan untuk bersama-sama melahirkan anak-anak bangsa yang pintar. Nuraninya ikut terpanggil untuk memberikan lentera penerang bagi kehidupan bangsa Indonesia di hari esok.
Sebagai lembaga pendidikan tinggi, UGM sudah peduli dan mau memperhatikan bibit-bibit unggul yang dimiliki negeri ini supaya bisa mendapat fasilitas cukup dalam dunia pendidikan. UGM memiliki niat dan tujuan baik supaya mereka dapat mengembangkan prestasi yang sudah diraih di lomba internasional tersebut. Anak-anak negeri itu semakin mampu menggali potensi dan bakat ilmunya yang masih terpendam.
Mereka kemudian menjadi anak-anak bangsa yang bisa meneruskan kepemimpinan bangsa Indonesia di masa mendatang dalam segala bidang disiplin ilmu yang digeluti. UGM dalam konteks tersebut sudah mempunyai terobosan gagasan guna menjawab kebuntuan arah bangsa di tengah semakin anjloknya dunia pendidikan.
Yang jelas, apa pun stempel miring terhadap UGM sebagai lembaga pendidikan tinggi elitis, ia harus tetap diapresiasi dengan sangat tinggi ketika bisa memasukkan pemenang olimpiade sains tanpa tes.
Sebab, sepanjang sejarah pendidikan di negeri ini, belum ada perguruan tinggi bonafide seperti UGM yang mau memasukkan calon-calon mahasiswa barunya secara sekonyong-konyong kendati sudah memiliki prestasi-prestasi tertentu selama duduk di bangku sekolah.
Pertanyaannya kemudian, hanya sebatas itukah gebrakan UGM? Tidakkah kebijakan memasukkan pemenang olimpiade sains tanpa tes itu dibarengi dengan kebijakan-kebijakan politik kampus yang lain?
Saya berpendapat bahwa kebijakan UGM tersebut harus diikuti dengan kebijakan-kebijakan lain. Digratiskannya biaya kuliah dan sebagainya selama mereka (pemenang olimpiade sains) menimba ilmu di UGM adalah sebuah kebijakan UGM yang harus dijalankan secara tegas.
Itu sebagai bentuk bahwa UGM tidak hanya manis di bibir, namun juga manis di hati dan tindakan. Sebab, bila UGM hanya memasukkan mereka tanpa tes, itu ibarat seorang anak kecil yang cuma bisa melihat dan mencium bau enaknya kue, namun tidak merasakan nikmatnya kue saat dimakan. Dan UGM harus mengambil langkah seperti itu apabila ingin didapuk sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bersungguh-sungguh ikut mencerdaskan kehidupan bangsa di negeri ini.
Oleh sebab itu, UGM kemudian harus bisa sesegera mungkin menggelar kebijakan politik pendidikan sedemikian itu. Dan lembaga pendidikan tinggi seperti UGM harus bisa mengawali sebuah implementasi gerakan pendidikan populis tersebut. UGM harus menjadi ikon lembaga pendidikan tinggi yang bisa menggeser paradigma pendidikan tinggi sangat elitis dan eksklusif.
Artinya, paradigma lembaga pendidikan tinggi yang hanya mematok harga tinggi bagi calon mahasiswa baru harus dihilangkan apabila mereka memiliki prestasi-prestasi membanggakan bagi negeri ini. Tidak perlu memperhatikan apakah berasal dari kalangan orang kaya maupun miskin. Harus dimasukkan tanpa tes dengan mendapat fasilitas memuaskan dan gratis.
Yang jelas, bila UGM mampu menunjukkan paradigma pendidikan tinggi sangat populis tersebut, itu akan menghilangkan stigma buruk publik bahwa lembaga pendidikan tinggi adalah market (pasar). Siapa yang berduit akan mendapatkan pendidikan berkualitas dan seterusnya.
Dengan capaian kebijakan politik pendidikan itu, UGM diharapkan tidak berhenti di tengah jalan atau hanya melakukan tebar pesona.
Pada tahun-tahun mendatang, UGM juga harus memasukkan para calon mahasiswanya secara tanpa tes bila mereka memiliki prestasi hebat seperti pemenang olimpiade sains dan sebagainya selama di bangku sekolah. Ini harus dilakukan supaya lembaga pendidikan tinggi bonafide lainnya seperti ITB, IPB, UI, dan seterunya dapat meniru gebrakan UGM tersebut.
Hendro Muhaimin
Staff Peneliti pada Pusat Studi Pancasila UGM
ardy seto Said:
on January 26, 2010 at 12:05 am
headernya narsis abis..
parah.. mbok diganti..
wkkwkw..
pingin muntah deh..
kangendru Said:
on January 26, 2010 at 4:32 am
menghindari plagiarisme dan biar gak jadi pecundang bung..
nanti tulisan ini biar tahu siapa yang nulis dan lanjutannya rahasia dech…
hwahahaha…
jiet Said:
on May 11, 2010 at 1:15 pm
oh ya! ama itb msh berprestasi mana ya?
kangendru Said:
on May 12, 2010 at 6:49 am
Waduuh..
Berprestasi mana juga kurang tahu,yang jelas sama2 punya misi untuk membangun da mensejaterakan bangsa melalui tri dharmanya.