Saya tulis dalam rangka peringatan Hari Veteran Nasional 10 Agustus 2010
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa dan perjuangan para pahlawannya. Itu adalah ungkapan yang sering kita dengar, baik dalam pidato ataupun dalam berita-berita yang ada di media massa. Ironi jika harapan yang muncul dari ketegasan ungkapan yang disampaikan tersebut, tidak sesuai dengan kenyataannya. Yang kemudian muncul adalah harapan yang tetap menjadi harapan.
Apa itu Veteran?
Veteran adalah orang Indonesia yang pernah memiliki pengalaman di bidang militer ataupun penegakan hukum. Dalam pandangan umum ada tiga tingkatan veteran, yang tertinggi adalah veteran yang ikut perang kemerdekaan, kemudian veteran perang untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dari agresi luar negeri, dan terakhir adalah veteran perang untuk membela kepentingan bersama bangsa-bangsa yang menjadi sekutunya, atau membela kepentingan politik negaranya. Di Indonesia sendiri saat ini ada dua kategori veteran, yaitu Veteran Pejuang Kemerdekaan bagi yang bertempur dalam Perang Kemerdekaan dari tahun 1945 sampai 1949, dan Veteran Pembela Kemerdekaan bagi yang pernah bertempur selama Trikora dan Dwikora, juga yang di Timor Timur dari tahun 1975 sampai 1976. Kemudian dikenalah LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) yang merupakan organisasi yang menghimpun para Veteran Republik Indonesia.
Menurut Undang-undang No. 7 tahun 1967, negara perlu memberikan penghargaan kepada mereka yang telah menyumbangkan tenaganya (berjuang) secara aktif atas dasar sukarela dalam ikatan kesatuan bersenjata baik resmi maupun kelaskaran dalam memperjuangkan, membela dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam Undang-undang disebutkan bahwa Veteran Republik Indonesia adalah Warga Negara Republik Indonesia yang ikut secara aktif dalam sesuatu peperangan membela Kemerdekaan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia menghadapi negara lain yang timbul di masa yang akan datang, dan juga mereka yang ikut dalam masa Revolusi fisik antara 17 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949 untuk mempertahankan Negara Republik Indonesia, ikut aktif dalam perjuangan pembebasan Irian Barat melakukan Trikora sejak 10 Desember 1961 sampai dengan 1 Mei 1963, dan yang ikut melakukan tugas Dwikora langsung secara aktif dalam operasi-operasi/pertempuran dalam kesatuan-kesatuan bersenjata. Menurut UU No. 7/1967 semua Veteran yang telah disahkan memperoleh gelar kehormatan Veteran Republik Indonesia yang berhak dan wajib menjadi anggota Legiun Veteran Republik Indonesia yang merupakan satu-satunya organisasi massa Veteran.
Veteran Yang Masih Berjuang
Permasalahan yang sering muncul dalam memperhatikan nasib veteran adalah kesejahteraannya. Perhatian ini kerap sekali ada ketika hak kesejahteraan sebagai veteran terusik oleh rasa ketidaknyamanan atau bahkan ketidakadilan. Sangat menyedihkan ketika kemudian nasib para veteran itu tidak ada tindak lanjut atau penyelesaiannya terhadap apa yang telah menjadi harapannya. Mereka hanya mengeluh dan meratapi nasib mereka yang berjuang membebaskan kita dari jajahan bangsa manapun, dengan mempertaruhkan jiwa dan raga mereka. Seakan merasa tidak berguna apa yang telah mereka perjuangkan, lebih-lebih melihat berbagai gejolak yang menimpa bangsa ini. Sungguh sangat memilukan, ketika perhatian itu muncul didasarkan atas ketidaknyamanan mereka. Pertanyaannya, apakah pemerintah tidak mampu memberikan perhatian yang lebih layak untuk para veteran ini? Mereka adalah para pendahulu kita, orang tua kita, dan pembuka gerbang kemerdekaan yang ikut membantu menegakkan berdirinya sebuah negara bernama Republik Indonesia. Sangat wajar untuk sebuah penghargaan. Tapi inilah raut muka negeri ini di usianya yang ke-65 tahun. Raut ironi yang tampak dimana-mana. Lihat saja, kasus demi kasus miring menimpa negeri ini, tidak semata pada agenda penyimpangan penyelenggaraan negara namun juga karakter generasi bangsa ini yang mulai rapuh.
Beginikah sebuah negeri menghargai para veteran atau pejuang? kita pun tidak tahu, bagaimana nasib para veteran itu. Kita hanya bisa berharap, semoga ada titik cerah bagi para veteran ketika sinar kemerdekaan menyentuh usia ke-65. Saat ini ada sekitar 32 ribu jumlah prajurit dan PNS veteran. Tetapi pemerintah hanya menyediakan 16 ribu rumah dinas. Sekitar 1.300 rumah masih dihuni oleh purnawirawan. Jadi banyak veteran yang tidak memiliki rumah tinggal.
Kemana akan melangkah, Veteran?
Raut kekecewaan belum juga hilang dari wajah para veteran kita, belum selesai satu masalah yang menyangkut kesejahteraannya justru masalah-masalah lainnya datang silih berganti. Belum lama ini, masalah veteran muncul ketika Nenek Rusmini dan Soetarti istri pejuang Ahmad Kuseini dan HR Soekarno. Kedua nenek tersebut bahkan terancam mengakhiri sisa hidupnya di balik jeruji besi karena dituduh menyerobot rumah dinas Perum Pegadaian. Awalnya adalah, Rusmini dan Soetarti menempati rumah dinas Perum Pegadaian di Jalan Ccipinang Raya, Jakarta, sejak tahun 1980. Karena suami mereka, Ahmad Kuseini dan HR Soekarno, bekerja sebagai pegawai Perum Pegadaian setelah berjuang sebagai prajurit di Brigade 17 Tentara Pelajar Indonesia. Namun, diusir Perum Pegadaian sejak tahun 2008. Akibat ulah itu, kedua janda mantan pejuang itu menggugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Timur. Meski dalam penyelesaiannya kedua nenek tersebut dapat rumah pengganti dan dibebaskan, namun yang disayangkan adalah bagaimana bentuk penghargaan atas perjuangan mereka.
Tentu harapan yang besar mereka letakkan pada generasi penerus bangsa, tentang kesejahteraan, tentang jaminan, dan juga tentang kemenangan perjuangannya adalah untuk menjawab apa yang terjadi sekarang. Veteran memang sudah tidak kuat lagi untuk memberantas masalah-masalah kebangsaan yang saat ini muncul, namun jasa yang telah disemaatkannya, sangat berarti untuk generasi ke depan bangsa ini. Berbagai persoalan kebangsaan yang sekarang muncul tidak menyurutkan semangat para veteran untuk tetap tegak memperjuangkan amanat Pancasila dan UUD 1945 sebagai nilai luhur dan landasan utama bangsa Indonesia untuk melangkah.
Tujuan berdirinya suatu bangsa tidak lain adalah mensejahterakan rakyatnya, kalau dalam perjalanannya mengalami pasang surut itu bagian dari proses kemerdekaan yang telah dicapai. Maka kekuatan bangsa ini terletak pada kemantapan generasi bangsa dalam menghargai perjuangan para pemimpin bangsa, tak terkecuali “air mata” veteran kita. Dirgahayu Veteran Nasional. Terima kasih kami sebagai anak bangsa yang telah engkau lahirkan.
Hendro Muhaimin
Staf Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM
Asrie Rahmiatie Said:
on November 4, 2010 at 12:03 am
Sungguh menyedihkan melihat nasib para veteran yang seakan “dikhianati” oleh bangsa mereka sendiri. Mereka adalah pendahulu kita, orang tua kita. Dan tanpa mereka, mungkin kita sebagai generasi kedua, ketiga, bahkan keempat dari era kemerdekaan ini tidak akan bisa menikmati indahnya kebebasan. Selayaknya sebagai generasi penerus kita menghargai mereka dengan cara bekerja keras, dan membantu mereka sebisa mungkin.
Pertanyaan saya adalah, bagaimana dengan generasi kedua, ketiga, dst. dari para veteran ini? Apakah mereka sudah bekerja keras untuk (minimal) mengangkat derajat keluarga mereka sendiri? Memang selayaknya pemerintah membantu. Tapi kalaupun tidak, bagaimana dengan anak cucu para veteran ini? Tidakkah mereka malu melihat orang tua/ kakek mereka masuk media karena kepapa-an meraka? Apakah mereka tega terus menerus “menjual” nama veteran orang tua meraka untuk mendapatkan tempat tinggal. Alih-alih bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak?
Saya kira semua nenek moyang kita adalah pejuang meskipun dulu mereka tidak diberi seragam dan pangkat. Pemudanya mengangkat senjata seadanya, meski hanya bambu runcing.Para petani turut menyumbang makanan untuk tentara. Yang wanita membuat dapur umum. Dan tak jarang mereka terbunuh dalam usahanya itu. Tanpa pangkat, tanpa diekspos media. Dan lihatlah anak cucu mereka sekarang. Bekerja keras tanpa “bersembunyi” di belakang seragam orang tua.
Sedangkan anak para veteran? Saat pengambil alihan terjadi, mereka ikut berteriak2 agar rumahnya tidak “diambil”. Mereka beramai2 dengan istri/suami dan anak2 mereka. Ramainya…Ya! Karena mereka sudah beranak pinak di rumah dinas orang tua. Melihatnya pun saya malu.
Memang tidak semua anak veteran seperti itu. Saya, akui mereka tidak bisa digeneralisir. Tak jarang juga anak veteran yang berhasil, memberi kesejahteraan buat orang tua mereka. Inilah yang patut dicontoh.
Saya tetap mendoakan agar hidup veteran bisa lebih layak. Tidak lagi mengelus dada atas ulah negara, apalagi ulah anak-anak mereka sendiri.
Semoga Alloh membalas jasa para veteran dengan berlipat ganda. Amin.
Asrie Rahmiatie
Guru
Jakarta