GENERASI MUDA BENTENG TERAKHIR PANCASILA

Mayoritas bangsa ini, secara umum, telah mengalami degradasi nasionalisme. Tak hanya gerusan arus budaya asing yang menjadi sebab, melainkan kesadaran kolektif yang membentuk aral kesadaran bernegara kita, khususnya generasi muda. Mereka kini tak bangga lagi menyanyikan “Indonesia Raya” sebagai pemersatu bangsa, atau “berjiwa Pancasila” sebagai personifikasi dari kecintaan akan tanah air.
Ini mungkin persoalan sepele bagi sebagian orang, mengingat terlalu banyaknya persoalan-persoalan besar yang menimpa bangsa ini, seperti kasus Korupsi, NII, dan kasus-kasus lain. Padahal kalau kita renungi dalam-dalam, apa sebenarnya yang membuat persoalan besar itu ada?. Tentu semuanya bermula dari kasus atau persoalan kecil. Itulah bentuk pengakuan pada realitas aktual pada diri kita sebagai sebuah bangsa, di kalangan anak muda dan remaja khususnya.
Apa sih gunanya Pancasila itu? Sangat mengkhawatirkan jika kita mendengar rasa pesimis yang ditunjukkan oleh sebagian generasi muda sekarang. Apakah cukup dengan “enggak tahu!” untuk menjawab pertanyaan itu. Mungkin begitu jawaban yang ada jika seseorang sudah pesimis terhadap berbagai persoalan yang menimpa bangsa ini. Atau lebih parahnya lagi jika kelak generasi muda akan menjawab, ”enggak peduli!”. Kadang sikap yang muncul hanya karena dilatarbelakangi ”dendam” berlebihan kepada Orde Baru, termasuk pada produknya, sehingga Pancasila masih dianggap sebagai jimat ideologis yang memerangkap kita ke dalam kultur dan legitimasi kekuasaan.

Kenapa Generasi Muda?
Generasi muda sebagai sekumpulan individu yang amat beragam tentu di dalamnya terdapat berbagai ide dan keinginan yang berbeda-beda. Keragaman itu menciptakan dinamika tersendiri. Untuk bisa mengikuti dinamika generasi muda tersebut dibutuhkan instrumen yang mampu menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman sebagai bekal berinteraksi dengan sesamanya.
Kemudian, bagaimana mengajak generasi muda agar berjiwa Pancasila?. Nampaknya guru-guru pengajar/dosen Pancasila setiap tahun selalu mengalami kesulitan mengajar. Sebab, apa lagi yang mau diajarkan karena materinya dinilai itu-itu saja. Metode pendalaman Pancasila seperti itu menyebabkan generasi muda tidak mendapat penjelajahan yang memadai mengenai isi dan bentuk implementasi Pancasila.
Tidak perlu kita berangan-angan besar untuk menggelar diskusi pemuda berskala nasional/internasional atau kegiatan sejenis terus menerus. Tidak semuanya terukur dalam kuantitas semata, tetapi arti sebuah kualitas walau sedikit tetapi tepat adalah yang menjadi harapan kita semua. Kembali kepada keluarga dan lingkungan. Lingkungan di sini adalah lingkungan masyarakat dan lingkungan pendidikan. Disitulah letak keseharian mereka menghabiskan waktunya.
Padahal kalau kita renungi dalam-dalam, apa sebenarnya yang membuat persoalan besar itu ada?. Tentu semuanya bermula dari kasus atau persoalan kecil. Dalam keluarga misalnya, apakah orang tua sudah menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya. Mengajarkan sikap toleransi dan menghargai sesama anggota keluarga, juga dengan tetangganya. Begitu juga dalam lingkungan pendidikan, kadang kita habis-habisan menyalahkan siswa yang merokok dan tidak berpakaian sopan. Tetapi kenyataannya sering juga siswa bilang “guru saya saja juga merokok, bahkan berpakaian yang lebih kurang sopan daripada saya”. Kemudian lingkungan masyarakat adalah yang paling berperan, karena disinilah mereka bersosialisasi dan berperilaku dengan sesamanya. Apa yang ditiru dan apa yang dikatakan semua berasal dari lingkungan ini. Bagaimana jadinya jika tokoh masyarakat, tokoh agama tidak memberikan teladan yang baik.
Jawaban-jawaban di atas tampaknya terlalu ekstrem bagi sebuah persoalan yang dianggap sangat fundamental dalam kehidupan berbangsa kita sekarang ini. Namun, begitulah kenyataan alamiah atau ilmiah yang terjadi. Dan merupakan pengakuan pada realitas aktual pada diri kita sebagai sebuah bangsa, di kalangan anak muda dan remaja khususnya. Keteladanan adalah kuncinya.

Berkaca dari persoalan besar itulah maka tindakan untuk “penyelamatan” terhadap generasi muda mendesak untuk dilakukan. Benih kasus-kasus kecil, seperti perkelahian pelajar, demo anarkis, dan tindakan asusila yang banyak menimpa generasi muda sekarang adalah bukti lemahnya kontrol terhadap generasi muda. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan dan “penyelamatan” generasi muda demi masa depan bangsa.
Oleh karena itu perlu dianggap penting untuk terus mendorong generasi muda agar senantiasa bersikap sesuai dengan nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia. Yakni berjiwa Pancasila. Sebab nantinya generasi mudalah benteng hidup yang mampu memahami hal-hal yang berkaitan dengan masa depan bangsanya. Seiring dengan peringatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni 2011, semoga rohnya mampu memberikan harapan terhadap lahirnya ide-ide baru dari generasi muda guna penjangkaran atau pengakaran nilai-nilai Pancasila lebih dalam di masyarakat
Bayangkan, jika kelak generasi muda kita punya tekad kebangsaan yang kuat. Radikalisasi yang mengancam negara, mungkin hanya sekedar dicibir dan lantas mereka bilang “tubuhku ini Indonesia, dan kalau mau dibelah di dalamnya ada Pancasila”.

Hendro Muhaimin.
Staf Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.